Mengapa Bencana Terus Berulang dan Akademisi Selalu Terlambat Merespons?

Shared tulisan

Terbit di Radar Bogor, 16 Desember 2025

Banjir dan longsor terus berulang di Indonesia. Polanya konsisten. Tragedi terjadi. Korban jatuh. Kerusakan meluas. Baru setelah itu, suara akademik bermunculan. Seminar digelar. Webinar disiarkan. Pakar dimintai komentar. Keterlambatan ini bukan kebetulan. Ia sudah menjadi pola. Dan pola ini berbahaya karena membiasakan publik menerima tragedi sebagai sesuatu yang datang tanpa peringatan. Yang luput dibahas adalah akar masalahnya.

Kerusakan lingkungan berjalan perlahan, bertahun-tahun, dengan tanda-tanda yang bisa dibaca sejak awal. Ketika akademisi baru bicara setelah bencana, publik kehilangan satu fungsi penting ilmu pengetahuan, yaitu kemampuan mencegah penderitaan sebelum ia terjadi.

Di Mana Universitas dan Lembaga Riset Negara Sebelum Bencana Terjadi?

Pertanyaan ini tidak hanya ditujukan kepada universitas, tetapi juga kepada lembaga riset negara seperti BRIN dan pusat-pusat penelitian lain yang memiliki mandat langsung untuk membaca risiko dan memberi peringatan ilmiah. Di mana universitas ketika hutan dibuka tanpa kendali. Di mana akademisi ketika izin-izin bermasalah diterbitkan. Di mana peringatan ilmiah ketika daya dukung lingkungan dilampaui secara sistematis. Jika ilmu hanya hadir setelah bencana, maka ia telah gagal menjalankan fungsi dasarnya.

Ilmu seharusnya mencegah kematian, bukan sekadar menjelaskannya. Universitas dan lembaga riset negara seharusnya berada di hulu kebijakan publik. Keduanya memegang otoritas pengetahuan yang sama kuat, dan sama-sama bertanggung jawab memberi peringatan ketika risiko mulai terlihat. Menyuarakan bahaya sebelum kerusakan menjadi tak terpulihkan. Ketika peran ini ditinggalkan, ruang publik kehilangan salah satu sistem alarm paling penting.

Untuk Apa Universitas dan Lembaga Riset Negara Jika Bukan sebagai Institusi Moral dalam Krisis Ekologis?

Universitas dan lembaga riset negara tidak lahir hanya untuk memproduksi pengetahuan. Ia dibangun sebagai penjaga nalar publik. Sebagai institusi yang berani mengatakan tidak, bahkan ketika kekuasaan meminta diam. Dalam sejarah, kampus pernah menjalankan peran itu. Hari ini, peran tersebut makin menghilang. Dan hilangnya peran moral universitas memiliki konsekuensi langsung bagi keselamatan publik.

Ketika institusi moral melemah, keputusan publik cenderung ditentukan semata oleh kepentingan ekonomi dan politik jangka pendek. Tanpa koreksi etik dari dunia akademik, kebijakan yang berisiko tinggi bagi lingkungan dan masyarakat dapat berjalan tanpa perlawanan intelektual yang berarti.

Kapan Kebebasan Akademik dan Riset Dikalahkan oleh Kepentingan Proyek?

Realitasnya semakin jelas. Banyak kampus lebih sibuk mengamankan posisi institusional daripada menjaga keberanian intelektual. Riset diarahkan pada proyek. Kajian disesuaikan dengan skema pendanaan. Kritik struktural dipoles agar tetap aman. Ketika deforestasi berlangsung masif, suara kampus lemah. Ketika tata ruang dilanggar, kajian berhenti di meja birokrasi.

Ketika masyarakat mulai terdampak, universitas masih menimbang risiko relasi dan reputasi. Ketergantungan pada pendanaan membuat kebebasan akademik menjadi rapuh. Dalam situasi seperti ini, keberanian sering dianggap beban, bukan kewajiban. Padahal tanpa kebebasan bersuara, universitas kehilangan legitimasi moralnya di mata publik.

Mengapa Diam Akademisi Tidak Pernah Benar-Benar Netral?

Masalah ini bukan karena kekurangan data. Data melimpah. Peta risiko tersedia. Model prediksi terus diperbarui. Yang absen adalah keberanian mengambil posisi. Netralitas sering dijadikan alasan. Padahal dalam krisis ekologis, netralitas adalah ilusi. Diam bukan sikap pasif. Diam adalah keputusan politik. Dan keputusan itu berdampak langsung pada kehidupan manusia di hilir.

Ketika akademisi memilih diam, mereka secara tidak langsung membiarkan keputusan berisiko terus berjalan. Dalam konteks ini, diam bukan kehati-hatian ilmiah. Ia adalah pembiaran yang ikut membentuk hasil akhir. Bagaimana Ilmu Pengetahuan Kehilangan Fungsi Preventifnya Setelah Korban Berjatuhan? Ketika bencana akhirnya terjadi, universitas baru bicara. Diskusi pascabencana tentu penting. Evaluasi teknis dibutuhkan.

Namun semua itu tidak mengubah satu kenyataan. Ilmu yang datang setelah korban jatuh telah kehilangan fungsi preventifnya. Ia berubah menjadi catatan akademik. Bukan perlindungan. Bukan peringatan dini. Dan jelas bukan penyelamat. Ilmu yang terlambat hanya membantu kita memahami apa yang sudah hancur. Ia tidak lagi melindungi mereka yang seharusnya bisa diselamatkan. Di titik ini, ilmu kehilangan daya etiknya dan tereduksi menjadi arsip tragedi.

Mengapa Masyarakat Sipil Bergerak Lebih Cepat daripada Institusi?

Di saat institusi ragu, masyarakat sipil justru bergerak cepat. Mereka turun ke lapangan. Menggalang bantuan. Menyuarakan keprihatinan. Mengisi ruang yang ditinggalkan kampus. Bukan karena mereka lebih pintar. Tetapi karena mereka lebih bebas. Mereka belum sepenuhnya terikat oleh proyek, kontrak, dan kalkulasi posisi. Gerakan ini menunjukkan bahwa keberanian moral tidak selalu lahir dari otoritas formal. Ia sering muncul dari mereka yang masih memiliki jarak dari kekuasaan dan kepentingan struktural.

Masih Relevankah Universitas dan Lembaga Riset Negara di Tengah Krisis Lingkungan Nasional?

Di titik ini, relevansi universitas tidak bisa lagi ditunda untuk dipertanyakan. Apakah kampus masih berdiri bersama kehidupan. Atau telah bergeser menjadi penyedia legitimasi ilmiah bagi kebijakan yang merusak. Relevansi universitas dan lembaga riset negara tidak diukur dari peringkat global atau jumlah publikasi. Ia diukur dari keberanian bersuara sebelum tragedi. Dari kesediaan memperingatkan ketika risiko mulai nyata. Jika universitas terus menghindari peran ini, jarak antara kampus dan masyarakat akan semakin lebar. Kepercayaan publik akan terkikis, bukan karena anti-ilmu, tetapi karena kekecewaan terhadap diamnya institusi pengetahuan.

Jika Selalu Terlambat, Untuk Apa Universitas Dipertahankan?

Situasi saat ini mendesak. Diam tidak lagi bisa ditoleransi. Netralitas semu harus dihentikan. Keberanian moral harus dipulihkan sekarang, bukan setelah korban berikutnya jatuh. Jika universitas terus berbicara setelah orang mati, maka ia telah gagal menjalankan fungsinya. Dan jika kegagalan ini dibiarkan berulang, publik berhak mengajukan pertanyaan paling keras dan paling mendasar. Untuk apa universitas dipertahankan, jika ia selalu datang setelah semuanya terlambat. 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top