Estimasi waktu baca: 5 menit

Karl Marx dan Perpecahan di Dalam Gerakan Kiri
Di akhir 1940-an, dunia tidak hanya terbelah antara kapitalisme dan komunisme. Hubungan di dalam gerakan kiri sendiri juga mulai pecah.
Banyak orang di Barat saat itu percaya bahwa seluruh gerakan komunis dunia bergerak di bawah satu komando dari Moskow. Kenyataan sebenarnya tidak sederhana.Lebih rumit dari itu.
Sebelum Karl Marx muncul, Eropa sudah mengenal tradisi “sosialis utopis”. Marx kemudian mengkritik gagasan perubahan sosial yang hanya bergantung pada moral dan idealisme. Bersama Friedrich Engels, ia menyusun teori bahwa sejarah bergerak melalui konflik kelas ekonomi.
Menariknya, dalam The Communist Manifesto tahun 1848, Marx justru memuji kapitalisme sebagai kekuatan yang menghancurkan feodalisme dan mempercepat lahirnya industri modern. Menurut teorinya, kapitalisme akan melahirkan kelas pekerja besar yang suatu hari menggulingkan kaum pemilik modal.
Karena itu, banyak pemikir Marxis percaya bahwa masyarakat harus melewati tahap kapitalisme sebelum menuju sosialisme.
Pandangan ini ikut memengaruhi kebijakan Soviet setelah Perang Dunia II.
Di beberapa negara, gerakan kiri memilih jalur parlementer, bukan revolusi bersenjata. Di Jerman misalnya, Social Democratic Party of Germany sejak awal abad ke-20 memperjuangkan hak pekerja melalui pemilu dan parlemen.
Perbedaan pendekatan di Tiongkok.
Pada 1920-an, Soviet meminta Partai Komunis Tiongkok bekerja sama dengan kelompok nasionalis pimpinan Chiang Kai-shek dalam “Front Persatuan”. Moskow menilai Tiongkok masih terlalu agraris dan belum siap untuk revolusi komunis penuh.
Namun strategi itu berakhir tragis.
Pada 1927, Chiang Kai-shek berbalik menyerang kaum komunis. Dimulai dari pembantaian di Shanghai, ratusan ribu hingga lebih dari satu juta aktivis kiri, buruh, dan petani dibunuh dalam gelombang “Teror Putih”.
Meski dihancurkan, Partai Komunis Tiongkok tetap bertahan.
Perang Dunia II dan Lahirnya Tiongkok Merah
Ketika Jepang menginvasi Tiongkok pada 1937, kaum nasionalis dan komunis kembali bekerja sama melawan Jepang hingga Perang Dunia II berakhir pada 1945.
Tetapi setelah perang selesai, perang saudara kembali pecah.
Menariknya, Stalin sebenarnya meminta Mao Zedong berbagi kekuasaan dengan Chiang Kai-shek. Namun Mao menolak dan melanjutkan perang.
Pada 1949, Mao menang dan mendirikan People’s Republic of China.
Kemenangan “Tiongkok Merah” mengguncang Amerika Serikat. Di Washington muncul pertanyaan besar: “Siapa yang kehilangan Tiongkok?”
Padahal kondisi di lapangan jauh lebih kompleks. Pemerintahan Chiang Kai-shek sendiri lama dikritik karena korupsi, brutalitas, dan kegagalan ekonomi. Namun dalam suasana Perang Dingin, kompleksitas seperti itu semakin sulit diterima.
Soviet, Eropa Timur, dan Blok Komunis
Sementara itu, di Eropa Timur, Soviet memperkuat kontrol atas wilayah yang direbut Tentara Merah dari Nazi Jerman. Wilayah-wilayah itu dianggap penting sebagai penyangga keamanan terhadap kemungkinan invasi Barat di masa depan.
Setelah Marshall Plan diumumkan pada 1948, kontrol Soviet semakin mengeras. Di Czechoslovakia terjadi kudeta komunis, dan negara-negara Eropa Timur perlahan berubah menjadi negara satu partai.
Intervensi Politik Amerika di Itali
Di saat yang sama, Amerika Serikat juga melakukan intervensi politik besar-besaran di Italy untuk mencegah kemenangan partai kiri.
Washington mendanai Partai Demokrat Kristen, menjalankan propaganda antikomunis, hingga melibatkan tokoh terkenal seperti Frank Sinatra dan Gary Cooper dalam siaran Voice of America.
Bahkan warga keturunan Italia di Amerika didorong mengirim surat kepada keluarga mereka di Italy dengan pesan bahwa bantuan ekonomi Amerika bisa dihentikan jika kaum komunis menang pemilu.
Kaum komunis akhirnya kalah.
Ketika Dunia Tidak Lagi Benar-Benar Netral
Dunia benar-benar terbelah. Wilayah yang dibebaskan Tentara Merah dari Nazi berubah menjadi blok komunis, sementara wilayah lain bergerak di bawah pengaruh Amerika Serikat.
Namun kenyataan di lapangan tidak sesederhana narasi resmi kedua blok besar itu.
Tidak semua gerakan kiri tunduk pada Soviet. Tidak semua intervensi Barat dilakukan demi demokrasi. Dan tidak semua konflik saat itu semata pertarungan ideologi.
Sering kali, yang terjadi adalah perebutan pengaruh, keamanan, ekonomi, dan arah dunia pascaperang.
Satu hal mulai terlihat jelas, sejak akhir 1940-an, semakin banyak negara kehilangan ruang untuk benar-benar netral.
Ditulis ulang dan disarikan dari buku The Jakarta Method. Washington’ s Anticomunist Crusade and the Mass Murder Program that Shaped Our World Today, 2020. Karya Vincent Bevins.
llustrasi dan pengeditan akhir dibantu oleh AI.