Estimasi waktu baca: 5 menit

Hari-hari ini, Amerika Serikat kembali agresif menekan dan menyerang Iran. Sejarah menunjukkan bahwa konflik Washington dan Teheran sebenarnya bukanlah cerita baru. Akar ketegangan itu sudah terbentuk sejak 1953, ketika Inggris dan Amerika Serikat bekerja sama menggulingkan Perdana Menteri Iran, Mohammad Mossadegh, melalui operasi rahasia bernama Operation Ajax.
Ketika Inggris Kehilangan Kendali atas Minyak Iran
Pada akhir 1952, seorang pejabat CIA bernama Frank Wisner bertemu dengan agen intelijen Inggris, Monty Woodhouse, di Teheran. Inggris sedang menghadapi masalah besar di Iran. Inggris membutuhkan bantuan Amerika Serikat.
Sejak berakhirnya Perang Dunia II, Inggris memang mulai kehilangan banyak wilayah koloninya. Namun mereka tidak pernah membayangkan bahwa itu juga berarti hilangnya kendali atas sumber daya alam, terutama minyak.
Di Iran, Perdana Menteri Mohammad Mossadegh sedang menjalankan nasionalisasi industri minyak. Langkah ini secara langsung mengancam kepentingan Inggris yang selama bertahun-tahun menikmati keuntungan besar dari minyak Iran melalui perusahaan Anglo-Iranian Oil Company.
Bagi rakyat Iran, kemarahan terhadap Inggris bukan tanpa alasan. Pada masa imperialisme Inggris, Iran pernah mengalami kelaparan besar yang menewaskan jutaan orang. Setelah Perang Dunia II, keuntungan minyak lebih banyak mengalir ke Inggris dibanding ke Iran sendiri. Sementara para pekerja minyak Iran hidup miskin di permukiman tanpa fasilitas dasar.
Ketika Mossadegh dan parlemen Iran mulai mengurangi pengaruh Shah yang dekat dengan Inggris, London mulai mencari cara untuk merebut kembali kendali yang mereka anggap sebagai hak mereka.
Bagaimana Inggris Membawa Amerika Masuk ke Iran
Awalnya, sebagian pejabat Amerika Serikat sebenarnya ragu untuk ikut campur. Mereka khawatir hanya akan terseret ke dalam kepentingan kolonial Inggris.
Namun Inggris memainkan kartu yang sangat efektif di era Perang Dingin, yaitu antikomunisme.
Mossadegh memang melegalkan Partai Tudeh, partai komunis terbesar di Iran, bersama partai-partai politik lainnya. Inggris memperingatkan Washington bahwa bila Mossadegh dibiarkan, Partai Tudeh bisa mengambil alih Iran. Ini membuka jalan bagi pengaruh Soviet di Timur Tengah.
Situasi berubah semakin cepat setelah Dwight Eisenhower menjadi presiden Amerika Serikat pada 1953. Ia menunjuk kakak beradik, John Foster Dulles sebagai Menteri Luar Negeri dan Allen Dulles sebagai kepala CIA.
Menurut sejarawan James A. Bill, John Foster Dulles memiliki dua obsesi besar, memerangi komunisme dan melindungi kepentingan perusahaan multinasional.
Di Iran, dua kepentingan itu bertemu sekaligus, antikomunisme dan minyak.
Operation Ajax dan Jatuhnya Mohammad Mossadegh
CIA kemudian menjalankan operasi rahasia yang diberi nama Operation Ajax.
Operasi ini dipimpin Kermit Roosevelt, cucu Presiden Theodore Roosevelt. Ia diberi dana besar untuk menggulingkan Mossadegh dan mengembalikan Shah sebagai penguasa Iran yang pro-Barat.
CIA mulai menyuap politisi, mencari jenderal yang bersedia mengambil alih kekuasaan, dan membiayai kerusuhan jalanan. Mereka membayar preman, orang-orang kuat, bahkan pemain sirkus untuk menciptakan kekacauan di Teheran.
Ketika kepala stasiun CIA di Iran, Roger Goiran, memperingatkan bahwa Amerika sedang membuat kesalahan besar dengan mendukung kolonialisme Inggris, Allen Dulles justru memanggilnya kembali ke Washington.
Operasi propaganda juga dijalankan secara masif.
CIA menyebarkan poster dan pamflet yang menuduh Mossadegh sebagai komunis dan musuh Islam. Wartawan dibayar untuk menulis propaganda. Bahkan gangster disewa untuk berpura-pura menjadi anggota Partai Tudeh dan menyerang masjid agar kemarahan publik berbalik kepada kaum kiri.
Pada Agustus 1953, Mossadegh akhirnya berhasil dijatuhkan.
Shah kembali berkuasa dengan dukungan Amerika Serikat dan Inggris. Iran kemudian menjadi salah satu sekutu utama Barat di Timur Tengah selama puluhan tahun.
Di Washington, operasi ini dianggap sukses besar. Kermit Roosevelt diperlakukan sebagai pahlawan, sementara CIA merasa telah menemukan model baru untuk mengganti pemerintahan yang dianggap mengancam kepentingan geopolitik dan ekonomi Barat.
Awal Intervensi Modern Amerika
Keberhasilan di Iran menjadi titik penting dalam sejarah intervensi modern Amerika Serikat.
Inggris membawa kepentingan kolonial dan minyak. Amerika membawa operasi intelijen dan narasi antikomunisme global.
Keduanya bertemu dalam satu operasi yang kemudian menjadi contoh bagi berbagai intervensi berikutnya di Dunia Ketiga.
Sejak Iran 1953, Washington semakin melihat pemerintahan nasionalis yang terlalu independen, terutama yang menyentuh kepentingan ekonomi Barat, sebagai ancaman strategis.
Bahkan ketika negara tersebut bukan bagian langsung dari blok Soviet.
Dan hingga hari ini, konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran sulit dipisahkan dari perebutan pengaruh geopolitik dan kepentingan atas sumber daya energi strategis, terutama minyak Iran, yang sejak lama menjadi pusat pertarungan kekuasaan global.
Ditulis ulang dan disarikan dari buku The Jakarta Methods; Washington’s Anticommunist Crusade & the Mass Murder Program that Shaped Our World. 2020 oleh Vincent Bevins.
Ilustrasi dan pengeditan dibantu oleh AI.