Aksioma Jakarta: Awal Strategi Amerika Serikat di Dunia Ketiga

Shared tulisan

Estimasi waktu baca: 5 menit

Dunia Pasca Perang dan Ketakutan Baru Amerika

Setelah Doktrin Truman diumumkan pada 1947 dan McCarthyisme berkembang di Amerika Serikat, arah politik dunia berubah tajam. Washington tidak lagi melihat komunisme sekadar sebagai perbedaan ideologi, tetapi sebagai ancaman langsung terhadap kepentingan strategisnya di berbagai kawasan dunia.

Dalam situasi itu, ruang netral semakin menyempit.

Tokoh-tokoh seperti Ho Chi Minh dan Mao Zedong tidak lagi dipandang sekadar sebagai pemimpin gerakan kemerdekaan. Mereka mulai ditempatkan sebagai bagian dari ancaman global yang harus dibendung. Padahal banyak gerakan kemerdekaan di Asia dan Afrika lahir dari perlawanan terhadap kolonialisme Eropa, bukan semata-mata dari dorongan komunisme internasional.

Namun bagi Washington, persoalannya bukan hanya pemerintahan komunis. Yang lebih mengkhawatirkan adalah munculnya gelombang nasionalisme Dunia Ketiga yang menolak dominasi kolonial Barat, tetapi juga tidak ingin tunduk sepenuhnya pada blok Soviet.

Banyak pemimpin kemerdekaan memandang Amerika Serikat terlalu dekat dengan kekuatan kolonial lama seperti Inggris, Prancis, dan Belanda. Sementara itu, Uni Soviet terlihat lebih terbuka mendukung perjuangan anti-kolonial. Walaupun tidak semua ingin menjadi negara komunis, mereka tetap membutuhkan dukungan internasional untuk melawan kekuatan kolonial yang belum sepenuhnya pergi.

Di tengah situasi itulah, Indonesia mulai menarik perhatian dunia.

Peristiwa Madiun dan Perubahan Cara Pandang Washington

Pada 1948, ketika perang kemerdekaan melawan Belanda masih berlangsung, konflik internal pecah di tubuh revolusi Indonesia. Di Madiun, Jawa Timur, kelompok komunis bentrok dengan kekuatan republik yang lebih nasionalis dan cenderung kanan.

Peristiwa itu kemudian dikenal sebagai Peristiwa Madiun.

Dengan dukungan Sukarno dan elite republik lainnya, pemberontakan tersebut berhasil ditekan. Tokoh-tokoh Partai Komunis Indonesia dibunuh, ditangkap, atau dilumpuhkan.

Bagi Amerika Serikat, peristiwa ini memiliki arti strategis besar. Indonesia dipandang sebagai negara besar yang mampu menekan kekuatan komunis dari dalam tanpa harus sepenuhnya berada di bawah kendali Barat.

Setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada 1949, Washington mulai melihat bahwa pemerintahan nasionalis seperti Sukarno masih dapat diterima selama mampu menjaga pengaruh komunis agar tidak terlalu dominan. Dari sinilah muncul pola pikir baru dalam strategi global Amerika Serikat. Sebuah negara tidak harus sepenuhnya pro-Barat untuk dianggap berguna. Yang lebih penting adalah apakah negara tersebut mampu membatasi berkembangnya kekuatan kiri radikal yang dianggap dapat membuka jalan bagi pengaruh Soviet.

Lahirnya “Aksioma Jakarta” dalam Strategi Perang Dingin

Di bawah pemerintahan Harry S. Truman, kalangan pembuat kebijakan luar negeri Amerika Serikat mulai melihat Indonesia sebagai contoh penting dari gerakan anti-kolonial yang masih dianggap cukup antikomunis.

Indonesia menjadi model baru dalam percaturan Perang Dingin.

Negara Dunia Ketiga tidak harus menjadi sekutu penuh Washington untuk tetap diterima dalam tatanan global. Selama pemerintahan nasionalis masih mampu mencegah kekuatan komunis mengambil alih negara, hubungan politik tetap dapat dipertahankan.

Karena itu, nama Jakarta kemudian memiliki makna simbolik dalam strategi Perang Dingin Amerika Serikat.

Sejarawan Perang Dingin Odd Arne Westad menyebut pendekatan ini sebagai Aksioma Jakarta (Jakarta Axiom). Istilah tersebut menggambarkan toleransi Washington terhadap negara-negara Dunia Ketiga yang memilih posisi netral, selama mereka tetap mampu membatasi pertumbuhan kekuatan komunis radikal di dalam negeri.

Pada tahap awal, pendekatan ini terlihat lebih fleksibel dibanding kebijakan anti-komunis keras yang muncul pada dekade-dekade berikutnya. Namun di balik fleksibilitas itu, terdapat batas yang sangat jelas.

Netralitas hanya akan diterima selama tidak mengganggu keseimbangan kekuatan global yang diinginkan Washington.

Awal Intervensi Global di Negara-Negara Dunia Ketiga

Cara pandang inilah yang kemudian berkembang menjadi pola intervensi global yang jauh lebih luas pada dekade-dekade berikutnya. Konflik internal di negara berkembang tidak lagi dipandang sekadar sebagai persoalan domestik, tetapi sebagai bagian dari pertarungan geopolitik dunia.

Dari sini lahir keyakinan strategis yang terus berulang di banyak negara Dunia Ketiga. Stabilitas politik dan kekuatan anti-komunis sering dianggap lebih penting dibanding kualitas demokrasi itu sendiri.

Dan sejak saat itu, banyak negara berkembang tidak lagi hanya berjuang untuk merdeka. Mereka juga dipaksa menentukan posisi di tengah pertarungan ideologi, ekonomi, dan kepentingan kekuasaan global yang terus membesar.

Ditulis ulang dan disarikan dari buku The Jakarta Method. Washington’ s Anticomunist Crusade and the Mass Murder Program that Shaped Our World Today, 2020. Karya Vincent Bevins.

llustrasi dan pengeditan akhir dibantu oleh AI.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top