Estimasi waktu baca: 6 menit

Ketika Dunia Lama Mulai Runtuh
Setelah Perang Dunia II berakhir, dominasi kekuatan kolonial Eropa mulai melemah. Namun dunia tidak menjadi lebih damai. Sebuah pertarungan baru justru muncul antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.
Negara-negara yang baru merdeka, atau sedang berjuang merdeka, perlahan masuk ke dalam perebutan pengaruh global tersebut.
Salah satu wilayah pertama yang menjadi medan benturan besar adalah Semenanjung Korea.
Ketika Jepang menyerah pada 1945, Korea yang sebelumnya diduduki Jepang terbelah menjadi dua wilayah. Di utara, Kim Il-sung membangun pemerintahan dengan dukungan Soviet. Di selatan, Amerika Serikat mendukung Syngman Rhee, seorang tokoh antikomunis yang lama tinggal di Amerika.
Dunia mulai terbagi ke dalam dua blok besar. Korea menjadi salah satu garis depan pertama dalam pertarungan tersebut.
Republik Antikomunis dan Luka yang Jarang Dibicarakan
Pemerintahan Syngman Rhee dikenal keras terhadap kelompok kiri.
Dalam upaya menekan pengaruh komunis, pemerintah melakukan penangkapan, pembersihan politik, hingga kekerasan terhadap kelompok yang dianggap simpatisan kiri. Salah satu tragedi terbesar terjadi di Pulau Jeju.
Puluhan ribu warga sipil diperkirakan tewas dalam operasi militer dan penindasan politik yang berlangsung bahkan sebelum Perang Korea benar-benar pecah.
Sisi gelap ini jarang muncul dalam narasi besar Perang Dingin yang sering menggambarkan Korea hanya sebagai pertarungan antara komunisme dan dunia bebas. Kenyataannya jauh lebih rumit dari sekadar pertarungan dua ideologi.
Perang yang Menghancurkan Semenanjung Korea
Pada 1950, perang akhirnya pecah.
Pasukan Korea Utara bergerak cepat ke Seoul dan mendorong Amerika Serikat membawa konflik tersebut ke Perserikatan Bangsa-Bangsa. Karena Uni Soviet tidak menggunakan hak veto, Amerika berhasil membentuk pasukan internasional di bawah bendera PBB.
Pasukan Amerika dan sekutunya kemudian mendorong Korea Utara kembali ke utara. Bahkan muncul upaya untuk menguasai seluruh Semenanjung Korea.
Namun keadaan berubah ketika pasukan Tiongkok di bawah Mao Zedong masuk membantu Korea Utara. Konflik yang semula terlihat lokal berubah menjadi perang besar yang melibatkan kekuatan-kekuatan utama dunia.
Selama tiga tahun perang berlangsung, sebagian besar kota di Korea Utara hancur akibat pemboman besar-besaran. Ratusan ribu hingga jutaan warga sipil kehilangan nyawa. Perang Korea menjadi salah satu konflik paling merusak setelah Perang Dunia II, meskipun sering terlupakan dibanding Vietnam atau perang-perang besar lainnya.
CIA dan Awal Operasi Rahasia Global
Selain perang terbuka, Amerika Serikat mulai memperluas penggunaan operasi rahasia melalui CIA.
Di Korea, ribuan agen Korea dan Tiongkok diterjunkan untuk menjalankan misi intelijen dan sabotase ke wilayah Korea Utara. Namun banyak operasi tersebut berakhir gagal. Dokumen yang kemudian dibuka menunjukkan bahwa banyak agen terbunuh atau memberikan informasi yang ternyata telah dimanipulasi oleh pihak lawan.
Kegagalan tersebut menunjukkan bahwa operasi rahasia tidak mudah dijalankan menghadapi kekuatan politik dan militer yang telah terorganisasi dengan baik.
Namun pengalaman itu justru menjadi pelajaran penting bagi Washington dalam membangun strategi globalnya pada dekade-dekade berikutnya.
Dari Korea ke Dunia Ketiga
Korea menjadi titik penting dalam cara pandang Amerika Serikat terhadap dunia.
Untuk pertama kalinya, Washington melihat bagaimana sebuah konflik lokal dapat berubah menjadi pertarungan global antara dua blok kekuatan besar. Pengalaman itu membentuk cara pandang baru terhadap berbagai negara berkembang di Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin.
Negara-negara yang baru merdeka tidak lagi dipandang sekadar sedang membangun masa depannya sendiri. Mereka mulai dilihat sebagai wilayah strategis yang dapat menentukan keseimbangan kekuatan dunia.
Gerakan nasionalisme, sosialisme, dan antikolonialisme semakin sering dicurigai sebagai bagian dari ancaman global terhadap kepentingan Barat.
Tidak lama setelah Perang Korea, perhatian Amerika mulai bergerak ke Iran. Di sanalah CIA memperoleh keberhasilan besar pertamanya melalui Operation Ajax pada 1953, sebuah operasi yang kemudian menjadi model bagi berbagai intervensi geopolitik berikutnya.
Sejak saat itu, banyak negara berkembang tidak lagi hanya berjuang membangun kemerdekaannya. Mereka juga masuk ke dalam pertarungan pengaruh global yang membentuk struktur kekuasaan baru.
Dampaknya masih dapat dilihat hingga hari ini melalui polarisasi politik, lemahnya konsolidasi demokrasi, ketimpangan ekonomi, dan persoalan tata kelola yang terus berulang di berbagai negara.
Ditulis ulang dan disarikan dari buku The Jakarta Methods; Washington’s Anticommunist Crusade & the Mass Murder Program that Shaped Our World. 2020 oleh Vincent Bevins.
Ilustrasi dan pengeditan dibantu oleh AI.