Estimasi waktu baca: 6 menit

Anak Koloni yang Menyaksikan Dunia Berubah
Francisca Pattipilohy lahir pada 1926, ketika Hindia Belanda masih tampak kokoh dan Eropa masih dianggap pusat dunia.
Ia tumbuh di Ambon dalam keluarga yang relatif berada. Seperti banyak anak terdidik pada masa kolonial, masa kecilnya dipenuhi buku-buku berbahasa Belanda. Ia mengenal dongeng Grimm, kisah koboi Amerika, dan cerita Hans Christian Andersen jauh lebih baik daripada sejarah bangsanya sendiri.
Begitu kuat pengaruh dunia kolonial itu, hingga Francisca kecil pernah mengira Sungai Rhein berada di Indonesia.
Ia bersekolah bersama anak-anak Belanda. Di ruang kelas, semua tampak biasa. Namun di luar sekolah, batas antara penjajah dan yang dijajah tetap terasa.
Suatu hari ia ikut keluarga temannya berenang. Ketika hendak masuk, penjaga menghentikannya.
Ia tidak boleh masuk.
Alasannya sederhana. Ia orang Indonesia.
Pengalaman seperti itu mungkin tampak kecil. Namun bagi banyak anak muda pada masa kolonial, pengalaman serupa perlahan membentuk kesadaran bahwa mereka hidup di negeri sendiri, tetapi tidak diperlakukan setara.
Saat itu dunia juga sedang berubah. Perang Dunia II mendekat. Kekuasaan kolonial mulai goyah. Dan tanpa disadari, sebuah generasi baru sedang tumbuh. Generasi yang kelak menjadi generasi pertama Indonesia merdeka.
Ketika Dunia Lama Mulai Retak
Tahun 1942, Jepang masuk ke Indonesia. Banyak orang menyambutnya sebagai pembebas. Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, bangsa Asia berhasil mengalahkan kekuatan Eropa yang selama ratusan tahun dianggap tidak terkalahkan.
Ayah Francisca termasuk yang sempat berharap.
“Mereka adalah pembebas kita.”
Namun harapan itu tidak bertahan lama. Beberapa hari kemudian seorang tentara Jepang menamparnya di depan keluarga hanya karena tidak membungkuk.
Keluarga Francisca segera memahami bahwa penjajahan tetaplah penjajahan, siapa pun pelakunya.
Meski membawa penderitaan baru, masa pendudukan Jepang juga mempercepat lahirnya identitas Indonesia. Francisca mulai belajar Bahasa Indonesia. Sebelumnya ia jauh lebih akrab dengan bahasa Belanda dibanding bahasa bangsanya sendiri.
Perlahan sebuah bangsa mulai menemukan bahasanya. Dan melalui bahasa itu, mulai menemukan dirinya sendiri.
Ketika Kemerdekaan Masih Berupa Harapan
Ketika Jepang menyerah pada 1945, Sukarno memproklamasikan kemerdekaan.
Namun kemerdekaan tidak langsung menghadirkan ketenangan. Belanda kembali dan berusaha merebut kekuasaan. Perang pecah di berbagai daerah. Republik yang baru lahir harus bertahan dengan segala keterbatasannya.
Di tengah situasi itu, Francisca berangkat ke Belanda untuk belajar. Di Leiden, ia bertemu seorang mahasiswa Indonesia bernama Zein.
Hubungan mereka tumbuh melalui percakapan panjang tentang sejarah, kolonialisme, kemerdekaan, dan masa depan Indonesia.
Mereka bukan satu-satunya.
Generasi yang Percaya Dunia Bisa Berubah
Di berbagai kota di Eropa, mahasiswa dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin mulai saling bertemu. Mereka datang dari bangsa-bangsa yang baru merdeka atau sedang memperjuangkan kemerdekaan.
Francisca menghadiri Festival Pemuda dan Mahasiswa Dunia di Budapest. Untuk pertama kalinya ia bertemu anak-anak muda dari berbagai penjuru dunia.
Bagi generasi seperti Francisca dan Zein, kemerdekaan bukan hanya soal Indonesia. Mereka merasa sedang menyaksikan lahirnya dunia baru.
Negara-negara di Asia dan Afrika mulai merdeka. Namun pada saat yang sama, dunia juga mulai terbelah ke dalam dua kutub besar, Amerika Serikat dan Uni Soviet.
Bagi generasi muda saat itu, masa depan tampak terbuka. Mereka percaya bahwa dunia yang lebih adil dapat dibangun.
Pulang untuk Membangun Republik
Pada 1950 Francisca dan Zein menikah di Praha dan kembali ke Indonesia.
Mereka pulang bukan untuk mencari kehidupan yang mudah. Francisca bekerja sebagai pustakawan. Zein masuk dunia jurnalistik.
Namun generasi itu memiliki sesuatu yang sulit diukur dengan angka. Mereka memiliki keyakinan.
Keyakinan bahwa Indonesia dapat berdiri di atas kakinya sendiri. Keyakinan bahwa rakyat yang selama berabad-abad hidup di bawah kolonialisme mampu membangun masa depannya sendiri.
Bagi Francisca dan Zein, kemerdekaan bukan sekadar peristiwa politik yang terjadi pada 1945.
Kemerdekaan adalah pekerjaan sehari-hari.
Dan seperti jutaan anak muda lain di Asia, Afrika, dan Amerika Latin pada masa itu, mereka percaya bahwa masa depan sedang dibangun oleh tangan mereka sendiri.
Ditulis ulang dan disarikan dari buku The Jakarta Method: Washington’s Anticommunist Crusade and the Mass Murder Program that Shaped Our World (2020) karya Vincent Bevins.
Ilustrasi dan pengeditan dibantu oleh AI.