Estimasi waktu baca: 5 menit

Bandung 1955: Awal Kebangkitan Dunia Ketiga
Pada April 1955, Sukarno mengundang para pemimpin Asia dan Afrika ke Bandung. Ini bukan sekadar konferensi diplomatik. Dari Bandung lahir sebuah gagasan besar: bahwa bangsa-bangsa yang baru merdeka berhak menentukan jalannya sendiri tanpa harus tunduk kepada kekuatan besar mana pun.
Saat itu, Indonesia baru berusia sepuluh tahun. Namun Sukarno melihat bahwa perjuangan melawan kolonialisme tidak hanya milik Indonesia. Di seluruh Asia dan Afrika, puluhan bangsa sedang menghadapi tantangan yang sama: melepaskan diri dari dominasi asing dan membangun negara yang merdeka.
Selama berabad-abad, sebagian besar wilayah Asia dan Afrika berada di bawah kekuasaan kolonial Eropa. Ketika Perang Dunia II berakhir, banyak negara mulai memperoleh kemerdekaan. Namun kemerdekaan politik tidak serta-merta mengakhiri berbagai bentuk ketergantungan dan tekanan dari luar.
Sukarno memahami kenyataan itu. Karena itu, ia ingin mempertemukan negara-negara yang memiliki pengalaman sejarah serupa untuk membangun solidaritas baru di antara bangsa-bangsa yang pernah dijajah.
Konferensi Asia-Afrika
Konferensi Asia-Afrika yang berlangsung di Bandung pada 18–24 April 1955 dihadiri oleh 29 negara. Di antara para tokoh yang hadir terdapat Jawaharlal Nehru dari India, Gamal Abdel Nasser dari Mesir, Zhou Enlai dari Tiongkok, U Nu dari Burma, serta berbagai pemimpin dari Asia dan Afrika yang sedang mencari arah baru bagi negaranya masing-masing.
Bagi banyak peserta, Bandung merupakan pengalaman yang belum pernah terjadi sebelumnya. Selama ini, urusan dunia hampir selalu ditentukan oleh negara-negara besar. Kini, bangsa-bangsa yang baru merdeka mulai berbicara dengan suara mereka sendiri.
Pidato Sukarno tentang Kolonialisme dan Kemerdekaan
Dalam pidato pembukaannya, Sukarno mengingatkan bahwa kolonialisme belum benar-benar hilang dari muka bumi. Menurutnya, kolonialisme dapat hadir dalam berbagai bentuk dan tidak selalu tampil seperti penjajahan klasik yang dikenal pada masa lalu.
Pidato itu mendapat perhatian luas. Sukarno tidak hanya berbicara tentang Indonesia. Tentang pengalaman bersama bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang selama bertahun-tahun hidup di bawah dominasi kekuatan asing.
Sukarno menyerukan kerja sama, saling menghormati, dan hak setiap bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri.
Lahirnya Konsep Dunia Ketiga
Bandung kemudian menjadi simbol lahirnya kesadaran baru di dunia internasional. Untuk pertama kalinya, negara-negara yang tidak termasuk dalam kelompok kekuatan besar mulai melihat diri mereka sebagai bagian dari komunitas yang memiliki kepentingan bersama.
Bandung tidak menciptakan istilah Dunia Ketiga, tetapi konferensi ini membantu memberi makna politik yang kuat bagi gagasan tersebut di mata dunia. Istilah itu tidak merujuk pada negara miskin seperti yang sering dipahami sekarang. Pada masa itu, Dunia Ketiga berarti negara-negara yang tidak ingin sepenuhnya berada di bawah pengaruh Amerika Serikat maupun Uni Soviet.
Sejak awal, Sukarno percaya bahwa bangsa-bangsa yang baru merdeka harus memiliki kebebasan untuk menentukan arah politik dan pembangunan mereka sendiri.
Bandung juga memperkenalkan Sukarno kepada dunia sebagai salah satu pemimpin paling berpengaruh dari Asia. Jika sebelumnya ia dikenal sebagai tokoh kemerdekaan Indonesia, setelah Konferensi Asia-Afrika namanya mulai disejajarkan dengan para pemimpin besar dunia yang sedang membentuk tatanan internasional baru.
Banyak pengamat Barat terkejut melihat besarnya pengaruh yang dimiliki Indonesia. Negara yang baru merdeka itu ternyata mampu menjadi tuan rumah pertemuan internasional yang mempertemukan begitu banyak bangsa dengan latar belakang politik, budaya, dan agama yang berbeda.
Bandung sebagai Cikal Bakal Gerakan Non-Blok
Bagi Sukarno, keberhasilan Bandung bukan hanya keberhasilan diplomasi Indonesia. Ia melihatnya sebagai bukti bahwa bangsa-bangsa yang pernah dijajah dapat berdiri sejajar dengan negara mana pun di dunia.
Dalam tahun-tahun berikutnya, semangat Bandung terus berkembang dan menjadi salah satu fondasi lahirnya Gerakan Non-Blok. Gagasan bahwa negara-negara berkembang tidak harus memilih antara Washington atau Moskow mulai memperoleh bentuk yang lebih nyata.
Warisan Sukarno di Panggung Dunia
Warisan itulah yang membuat Bandung 1955 tetap dikenang hingga hari ini. Dari sebuah kota di Jawa Barat, Sukarno membantu memperkenalkan sebuah gagasan yang mengubah percakapan dunia: Dari Bandung, Sukarno menunjukkan bahwa negara-negara yang baru merdeka tidak harus menjadi pengikut kekuatan besar mana pun. Mereka dapat berdiri dengan kepentingan, suara, dan jalannya sendiri di panggung dunia.
Ditulis ulang dan disarikan dari buku The Jakarta Method (2020):  Washington’s Anticommunist Crusade and The Mass Murder Program That Shaped Our World. Karya Vincent Bevins.
Ilustrasi dan final edit dibantu AI