Sukarno: Nasionalis yang Disalahpahami Dunia Barat

Shared tulisan

Ketika Howard Palfrey Jones, seorang diplomat senior Amerika Serikat, tiba di Jakarta pada awal 1950-an, ia datang dengan satu kekhawatiran yang juga menghantui banyak pejabat di Washington saat itu: Indonesia dianggap berada di ambang jatuh ke tangan komunisme.

Di berbagai sudut Jakarta, lambang palu dan arit terlihat terbuka. Spanduk-spanduk Partai Komunis Indonesia berdiri tanpa rasa takut. Bagi banyak pengamat Barat, pemandangan itu seolah menjadi tanda bahwa arah politik Indonesia sudah jelas.

Namun setelah bertemu langsung dengan Presiden Sukarno, pandangan Jones berubah.

Pertemuan yang Mengubah Pandangan Amerika

Dalam memoarnya, Jones menggambarkan pertemuan pertama itu dengan kalimat yang terkenal. Menurutnya, bertemu Sukarno seperti tiba-tiba berdiri di bawah sinar matahari. Ia terkesan oleh kehangatan senyumnya, kecemerlangan pikirannya, dan energi yang seolah tidak pernah habis.

Sukarno bukan hanya seorang politikus. Ia mampu berbicara tentang sejarah, filsafat, sastra, agama, hingga budaya populer dalam satu percakapan yang sama. Setelah berjam-jam berdiskusi, ia masih mampu menghadiri berbagai acara dan bertemu banyak orang dengan antusiasme yang sama.

Bagi Jones, sosok seperti itu sulit disamakan dengan gambaran sederhana yang selama ini beredar di Washington.

Yang lebih menarik, Jones melihat bahwa banyak pejabat Amerika gagal memahami perbedaan antara nasionalisme Asia dan komunisme. Menurutnya, setelah Perang Dunia II, Amerika Serikat terlalu sering melihat setiap gerakan politik di negara-negara baru melalui kacamata Perang Dingin.

Padahal bagi banyak bangsa Asia dan Afrika, perjuangan utama mereka bukanlah memilih antara kapitalisme atau komunisme. Perjuangan mereka adalah melepaskan diri dari kolonialisme dan membangun negara yang merdeka.

Sukarno adalah contoh paling jelas dari fenomena itu.

Akar Pemikiran Nasionalisme Sukarno

Lahir di Jawa Timur pada tahun 1901, Sukarno tumbuh dalam lingkungan yang mempertemukan berbagai tradisi. Ayahnya seorang Muslim Jawa, sementara ibunya berasal dari keluarga Hindu Bali. Sejak kecil ia akrab dengan budaya Jawa, kisah-kisah wayang, dan berbagai pemikiran yang berkembang di Nusantara.

Di sisi lain, pendidikan kolonial memberinya akses kepada pemikiran modern Barat. Ia membaca berbagai karya politik dan filsafat dunia, sekaligus menyaksikan secara langsung bagaimana sistem kolonial memperlakukan rakyat Indonesia.

Perpaduan pengalaman itulah yang membentuk cara pandangnya.

Sukarno tidak melihat Indonesia sebagai kumpulan kelompok yang harus saling mengalahkan. Sebaliknya, ia melihat Indonesia sebagai bangsa yang hanya dapat berdiri kuat jika berbagai kekuatan sosial dan politik mampu bekerja bersama.

Pandangan itu terlihat jelas dalam tulisannya yang terkenal pada tahun 1926, Nasionalisme, Islam, dan Marxisme. Dalam tulisan tersebut, Sukarno mengajukan pertanyaan sederhana namun penting: apakah ketiga kekuatan itu dapat bersatu dalam perjuangan melawan kolonialisme?

Bagi Sukarno, jawabannya adalah ya.

Mengapa Sukarno Bukan Seorang Komunis

Karena itu, ia lebih tertarik membangun persatuan daripada memperdalam perpecahan ideologis. Sikap ini pula yang membuatnya sering disalahpahami, baik oleh lawan-lawan politiknya di dalam negeri maupun oleh banyak pengamat asing.

Jones menyadari bahwa Sukarno bukanlah seorang komunis. Ia adalah seorang nasionalis yang berusaha menjaga keseimbangan di tengah masyarakat Indonesia yang sangat beragam.

Indonesia yang dipimpinnya terdiri dari ratusan kelompok etnis, bahasa, dan tradisi yang berbeda. Tantangan terbesar setelah kemerdekaan bukan hanya mengusir penjajahan, tetapi juga membangun identitas nasional yang dapat diterima semua pihak.

Dalam konteks itulah Sukarno tampil bukan sekadar sebagai presiden pertama Indonesia, melainkan sebagai pemersatu bangsa yang baru lahir.

Nasionalisme Indonesia di Tengah Perang Dingin

Hubungan Jones dengan Sukarno kemudian berkembang cukup dekat. Di tengah meningkatnya ketegangan Perang Dingin, ia bahkan menjadi salah satu sedikit pejabat Amerika yang secara terbuka meyakini bahwa Sukarno tidak sedang membawa Indonesia menuju negara komunis.

Pandangan itu tidak selalu populer di Washington. Namun pengalaman langsung membuat Jones memahami sesuatu yang sering luput dari para pembuat kebijakan Barat: nasionalisme di negara-negara yang baru merdeka memiliki logika dan sejarahnya sendiri.

Sukarno adalah salah satu simbol terkuat dari nasionalisme tersebut. Ia lahir dari perjuangan melawan kolonialisme, tumbuh dalam keberagaman budaya Nusantara, dan percaya bahwa kemerdekaan hanya dapat bertahan jika bangsa yang majemuk ini mampu menemukan titik persatuannya.

Pandangan itulah yang kemudian mengantarkan Sukarno dari panggung politik Indonesia menuju panggung dunia, ketika ia mulai mengajak bangsa-bangsa Asia dan Afrika mencari jalan mereka sendiri di luar pertarungan dua blok besar Perang Dingin.

Ditulis ulang dan disarikan dari buku The Jakarta Method: Washington’s Anticommunist Crusade and the Mass Murder Program that Shaped Our World (2020) karya Vincent Bevins.

Ilustrasi dan pengeditan dibantu oleh AI.


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top